Dengan demikian upacara Congko Lokap ini bisa digelar sebagai tanda bahwa sebuah rumah adat akan resmi dihuni atau dipakai masyarakat adat setempat.
Budaya adalah salah satu ciri khas atau kekayaan dari suatu organisme atau kelompok masyarakat. Manggarai merupakan salah satu kelompok masyarakat yang memiliki kebudayaan atau tradisi yang unik. Menulis tentang budaya adalah salah satu rasa cinta terhadap tanah air sendiri.
Rabu, 29 Maret 2023
CONGKO LOKAP
Rabu, 22 Maret 2023
Ritual Saung Ta'a
Manusia memiliki kesadaran, sehingga dapat mengenal kehidupan yang dialaminya. Tidak dapat dipungkiri bahwa manusia tidak pernah terlepas dari budaya kandungnya yang telah memainkan perananan penting dalam sejarah kehidupannya.
ritual saung ta’a merupakan salah satu tradisi adat manggarai untuk memperingati kematian seseorang. Masyarakat desa Golo lobos khususnya kampung lame melaksanakan ritual saung ta’a pada hari kelima terhitung sejak jenazah dimakamkan. secara harafia saung ta’a merupakan daun yang metah dan hijau. saung ta’a dipercaya sebagai simbol kehidupan, artinya orang mati memliki kehidupan baru. masyarakat desa Golo Lobos melaksanakan ritual saung ta’a sebagai keberlangsugan hidup mereka.
Mengingat pertumbuhan dan perkembangan zaman yang semakin modern, masyarakat Manggarai khususnya di wilayah desa golo lobos seluruhnya harus tetap mempertahankan budaya kandungnya. Ritual saung ta’a, ceki lima adalah ritual adat kematian, ceki yang artinya larangan yang memiliki keterkaitan terhadap masyarakat Lame yang berduka, agar tidak boleh beraktifitas, tidak boleh ke kebun setelah ritual ini dilaksanakan. Ritual ini yang artinya kita akan berpisah dengan orang meninggal. Jika telah dilaksanakan ritual tersebut, maka segenap masyarakat boleh beraktifitas sebagaimana biasanya.
Ritual tersebut mewajibkan keluarga kandung untuk turut serta hadir, karena ritual adat ini sangat penting bagi keluarga kandung yang berduka. Kemudian dalam ritual adat tersebut memiliki salah satu tua adat terpilih yang membawakan tuturan adat tersebut kepada sang kuasa dan kepada leluhur agar jiwa orang meninggal dapat diterima oleh sang kuasa.
Rabu, 15 Maret 2023
Acara Ritual Kelas (Paka Di'a) .
wilayah Manggarai yang terletak di pulau Flores provinsi NTT dibagi mejadi 3 (tiga ) wilayah kabupaten yaitu kabupaten Manggarai, kabupaten Manggarai barat dan kabupaten Manggarai timur.
Meskipun Manggarai sudah terbagi menjadi tiga kabupaten ,tetapi tetap merupakan suku Manggarai sehingga ada beberapa tradisi yang mengakar dan tidak bisa dipisahkan dari budaya di Manggarai salah satunya tradisi Ritual adat kelas atau paka di’a (kenduri) .
Di daerah mano khususnya desa golo lobos kecamatan poco Ranaka diyakini acara ritual kenduri sebagai salah satu obyek pariwisata budaya dan kearifan lokal yang perlu dirawat,dihargai sebagai warisan leluhur ,diketahui dan dipahami oleh semua pihak baik masyarakat lokal maupun masyarakat internasional sehingga dengan demikian ritual ini akan menjadi salah satu destinasi budaya yang berkelanjutan.
Menurut masyarakat setempat rangkaian ritual adat yang dilaksanakan saat kematian mampu menghindarkan petaka bagi sanak keluarga orang meninggal dari pengaruh roh jahat. Sebaliknya, jika ritual adat tidak dilaksanakan, kerabat mendiang, hewan peliharaan, maupun tanaman pertanian akan tertimpa petaka.
Ritual adat kematian dilakukan sejak seseorang meninggal Sampai jasadnya dikuburkan sampai dengan acara kenduri (paka di’a =kelas ) yang dapat diartikan sebagai ritual pembebasan arwah. Ritual adat kematian di Manggarai ini khususnya di wilayah mano desa golo lobos kecamatan poco Ranaka ini diawali dengan Ritual toko bako(jaga jasad sejak orang tersebut meninggal ),ela haeng nai ( menggunakan media hewan babi sebagai wujud kecintaan keluarga pada orang mati tersebut, Ela tekang tanah(penghormatan keluarga dan membuat tempat peristirahatan terakhir ),(Saung ta’a=ceki telu sebagai ritual hari ke tiga setelah penguburan jasad yang meninggal, biasanya masyarakat di daerah mano pada ritual ini dilakukan pencucian kain kafan yng tidak diserati pada proses penguburan, dan lulung loce ( penggulungan tikar tempat pembaringan jasad selama berkabung ).
Selasa, 14 Maret 2023
Neka Lonto Lobo Ngencung(jangan duduk di atas alat penumbuk yang disebut(Ngencung).
Dalam hal alat kerja tradisional salah satunya ialah "Ngencung". Alat tradisional ini terbuat dari bahan alam kayu. Umumnya di kampung lame desa golo lobos masyarakat memanfaatkan pohon nangka yang berukuran lumayan besar sebagai bahan dasar pembuatan "Ngencung". Pembuatannya membutuhkan waktu yang lumayan lama sekitar satu hingga dua minggu. Hal itu karena proses pembuatannya tidak mudah.
Alat tradisional "Ngencung" khususnya di desa kami hampir setiap rumah memiliki. Keberadaan "Ngencung" ini tidak bisa dilepaskan dari kebiasaan masyarakat setempat yang menyukai kopi. Selain itu, Ngencung juga bisa digunakan oleh masyarakat setiap untuk menumbuk padi dan jagung. Sedangkan alat penumbuknya disebut alu.
Di daerah mano adalah sebuah pamali atau tabu bagi kaum permpuan yang masih gadis dan ibu-ibu hamil untuk duduk diatas ngencung, sehingga orang tua sering menasehati “neka lonto lobo ngencung”. Jika seorang anak perempuan gadis atau ibu hamil duduk diatas ngencung, maka diyakini anak yang akan dilahirkannya kelak tidak akan bisa berjalan atau mengalami keterlambatan dalam proses berjalan. Orang Manggarai menyebutnya ata peko (orang yang tidak bisa berjalan).
Umumnya dalam budaya Manggarai dikenal istilah sungke. Sungke dapat berarti suatu cara yang ditempuh atau digunakan untuk menangkal akibat dari suatu hal.
Rabu, 08 Maret 2023
Neka Lonto One Tange Sai ( Jangan Duduk Dibantal Kepala)
Dalam kehidupan orang manggari dikenal perbedaan antara bantal untuk kepala dan bantal untuk duduk. Bantal kepala digunakan untuk tidur dan bantal duduk digunakan untuk diduduki. Kedua bantal ini memiliki perbedaan yang mencolok jadi sangat mudah unuk membedakannya. Munculnya bantal duduk dalam masyarakat Manggarai salah satunya dipengaruhi oleh kebiasaan orang Manggarai untuk duduk bersial atau selengka di atas tikar, sehingga bantal duduk membantu agar orang mampu duduk dengan lebih nyaman.
Menjadi suatu pamali atau tabu bagi orang Manggarai khususnya bagi orang-orang yang berada di desa golo lobos untuk duduk mengunakan bantal kepala. Larangan ini berlaku bagi semua orang tanp terkecuali. Karena menurut keyakinan orang-orang sekitar daerah tersebut, orang yang menggunakan bantal kepala untuk duduk akan mengalami beti ulu (sakit kepala), sehingga sering didengar orang tua melarang anak-anak “neka lonto lobo bantal jaga beti ulu” (jangan duduk diatas bantal agar tidak sakit kepala).
Tabu atau larangan yang sering di sebut"Ireng" dalam bahasa Manggarai ini menjadi batasan bagi masyarakat terlebih khusus orang orang desa golo lobos agar menghargai orang lain. Karena tidak patut atau tidak sopan jika ada orang yang duduk di atas bantal yang mungkin akan digunakan oleh orang lain untuk membenamkan kepalanya. Maka, larangan ini memiliki fungsi etis dalam bertindak.
Neka wenang eme ba rapu kudut ngo boak (jangan bersin ketika membawa mayat untuk dikuburkan)
Dalam kepercayaan orang Manggarai khususnya masyarakat lame desa golo lobos, bersin pada waktu mengarak mayat menuju liang lahat adalah suatu pertanda akan terjadinya hal buruk. Sehingga bersin atau dalam bahasa Manggarainya sering di sebut dengan “wenang”. Hal ini menjadi sebuah tabu atau pamali atau sering disebut "Ireng" bagi seluruh anggota yang tergabung dalam arakan pengantar mayat menuju liang lahat.
Tarian Caci Budaya Masyarakat Manggarai.
Caci adalah salah satu tarian budaya Masyarakat Manggarai. Tarian Caci ini juga merupakan suatu permainan adu ketangkasan antara dua orang l...
-
wilayah Manggarai yang terletak di pulau Flores provinsi NTT dibagi mejadi 3 (tiga ) wilayah kabupaten yaitu kabupaten Manggarai, kabupate...