Manusia memiliki kesadaran, sehingga dapat mengenal kehidupan yang dialaminya. Tidak dapat dipungkiri bahwa manusia tidak pernah terlepas dari budaya kandungnya yang telah memainkan perananan penting dalam sejarah kehidupannya.
ritual saung ta’a merupakan salah satu tradisi adat manggarai untuk memperingati kematian seseorang. Masyarakat desa Golo lobos khususnya kampung lame melaksanakan ritual saung ta’a pada hari kelima terhitung sejak jenazah dimakamkan. secara harafia saung ta’a merupakan daun yang metah dan hijau. saung ta’a dipercaya sebagai simbol kehidupan, artinya orang mati memliki kehidupan baru. masyarakat desa Golo Lobos melaksanakan ritual saung ta’a sebagai keberlangsugan hidup mereka.
Mengingat pertumbuhan dan perkembangan zaman yang semakin modern, masyarakat Manggarai khususnya di wilayah desa golo lobos seluruhnya harus tetap mempertahankan budaya kandungnya. Ritual saung ta’a, ceki lima adalah ritual adat kematian, ceki yang artinya larangan yang memiliki keterkaitan terhadap masyarakat Lame yang berduka, agar tidak boleh beraktifitas, tidak boleh ke kebun setelah ritual ini dilaksanakan. Ritual ini yang artinya kita akan berpisah dengan orang meninggal. Jika telah dilaksanakan ritual tersebut, maka segenap masyarakat boleh beraktifitas sebagaimana biasanya.
Ritual tersebut mewajibkan keluarga kandung untuk turut serta hadir, karena ritual adat ini sangat penting bagi keluarga kandung yang berduka. Kemudian dalam ritual adat tersebut memiliki salah satu tua adat terpilih yang membawakan tuturan adat tersebut kepada sang kuasa dan kepada leluhur agar jiwa orang meninggal dapat diterima oleh sang kuasa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar