Rabu, 26 April 2023

Ritus Tiba Meka Orang Manggarai..

Masyarakat Manggarai memiliki kebiasaan yang khas dalam tata cara penyambutan tamu yang berperan untuk mempererat persaudaraan dan memupuk silaturahmi. Tata cara penerimaan tamu ini dalam tradisi orang Manggarai disebut ritus tiba meka. Meka yang disambut dengan ritus ini biasanya berlaku bagi tokoh pemerintah, tokoh masyarakat, dan tokoh agama. Dalam penyambutannya diwakilkan oleh tua adat yang disebut sebagai torok dan letang temba yaitu sebagai juru bicara dan perantara atau yang mewakili warga yang ada dalam satu kampung dengan tamu yang datang. 

Tata Cara Tiba Meka

Dalam penyambutan tamu, orang Manggarai memiliki beberapa prosedur di antaranya:
pertama, ‘Reis tiba di’a’ ( penyambutan dengan baik). Dalam bagian ini, ada beberapa hal penting yakni sapaan pembuka. Pengantar ini akan disampaikan oleh perwakilan dari suatu kampung. Biasanya, disampaikan oleh tokoh adat yang berfungsi sebagai ‘Torok’ (juru bicara) dan ‘ letang temba’ (mewakili) warga kampung. Selain itu, ungkapan kegembiraan menunjukkan kebahagiaan warga kampung karena tamu telah datang. Ungkapan ini juga diwakili oleh tokoh adat dengan ‘kapu’. Dilanjutkan dengan ungkapan kekaguman kepada tamu yang bersedia mengorbankan waktu untuk datang ke kampung.Terakhir, penutup dimana tamu diberi ayam jantan yang berwarna putih dan tuak sebagai puncak kegembiraan dari warga kampung dan juga sebagai tanda kehormatan. Tuak menjadi lambang penyerahan seluruh harapan kegembiraan bersama warga kampung.

Kedua, ‘raes agu raos cama laing’ (berbagi suka cita dan kebersamaan). Dalam bagian ini, penutur adat akan menyapa tamu dengan ‘ema’ yang menunjukkan kerendahan hati. Selain itu, warga kampung juga akan memperlihatkan suasana keakraban dengan “padir wa’i rentu sa’i” menyambut tamu. Terakhir adalah penerimaan dengan memberikan tuak reis (penyambutan) sebagai ajakan untuk menjadi bagian dari warga kampung dan menikmati suasana kegembiraan.

Ketiga, ‘pande cepa’ (Kebersamaan jasmani dan rohani) acara ini lebih pada pemberian sirih pinang tanpa ada pernyataan formal secara adat. Hal ini biasanya dilakukan oleh kaum perempuan. Pande cepa dimaknai sebagai ucapan selamat datang secara simbolis. Menikmati sirih pinang tanda masuk dan mengecap suasana persekutuan.

Keempat, ‘inung wae kolang’ (Minum bersama sebagai tanda keakraban) sebagai suguhan perdana atau pembuka bagi tamu. 

Kelima, ‘wali di’a (mohon keselamatan untuk tamu) merupakan ucapan terima kasih tokoh adat kepada tamu. Selain itu, tokoh adat juga akan memberi harapan agar tamu diberi kesehatan untuk tetap berjuang bersama warga kampung. Juga dalam bagian ini, tokoh adat akan menyampaikan permohonan maaf kepada tamu dan tamu akan diberikan ‘tuak baro salah’ (tuak untuk dimaafkan).

Sabtu, 15 April 2023

Ritus" Teing Hang" Masyarakat Manggarai.






 

Ritus “Teing Hang” merupakan bentuk syukur dan doa kepada Tuhan melalui perantaraan leluhur dalam masyarakat adat Manggarai. Ritual ini biasa dilakukan menjelang tahun baru sebagai wujud syukur atas tahun yang lama dan mohon berkat atau rejeki di tahun yang baru. 

Tahap dalam acara Teing Hang akhir tahun yaitu “Teing Cepa” (memberikan kapur sirih, sirih, pinang), “teing tuak” (Memberikan Moke), “Kebut Wulu Manuk Lalong Bakok” (Mencabut bulu ayam jantan putih ), ” Mbele Manuk Bakok” ( sembelih Ayam Jantan putih), ” Toto Urat” ( melihat urat usus Ayam jantan yang sudah disembelih dan dibakar).
Teing cepa sebagai bentuk penghargaan awal menyambut kedatangan Nenek Moyang.
Dalam tradisi masyarakat Manggarai pada umumnya, kapur sirih, daun sirih dan pinang adalah makanan penyambut dikala tamu pertama kali hadir di rumah. Selanjutnya, tahap teing tuak yakni memberikan moke kepada arwah untuk menambah rasa persatuan antara nenek moyang dengan keluarga di dalam rumah. Kebut Wulu Manuk Lalong yang bermakna agar bersih dan suci dengan memiliki hati, pikiran, perkataan dan tindakan yang bersih pada tahun yang baru. Pada tahap ini masyarakat Manggarai meminta supaya hati dan pikiran diterangi pada tahun baru melalui perkataan dan tindakan sesuai dengan putih bersih ayam jantan tersebut.

Makna yang Terkandung dalam Budaya "Teing Hang" Arwah di Manggarai.

Pertama, penghormatan pada arwah. Acara ini sebagai bentuk penghormatan pada arwah. Masyarakat Manggarai sangat menghormati anggota keluarganya yang telah meninggal dunia. 
Kedua, membangun hubungan yang dekat. Mayarakat Manggarai meyakini bahwa mereka yang sudah meninggal masih memiliki hubungan yang dekat dengan masyarakat. 
Ketiga, arwah adalah pendoa. Orang Manggarai percaya bahwa para arwah adalah pendoa yang baik.  Mereka pasti selalu berdoa bagi keluarganya yang masih hidup. 
Keempat, mengikat tali persaudaran masyarakat. Melalui acara memberikan makan arwah, masyarakat yang tersebar di berbagai daerah yang sudah lama tidak bertemu, kini berkumpul jadi satu. Saling berbagi cerita tentang pahit-manisnya kehidupan di tempat di mana mereka berada.


https://youtu.be/ud-hCqf50S4







Selasa, 11 April 2023

Acara "Teing Tinu"

Anak-anak Manggarai wajib menjalankan ritual ‘teing tinu’. Tradisi teing tinu ini merupakan salah satu kewajiban dari setiap anak di Manggarai untuk mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada orangtuanya. Secara nyata, jasa orangtua terhadap anak tidak bisa dibalas, namun di Manggarai acara teing tinu ini dianggap sebagai simbol kemandirian anak dan ungkapan terima kasih Meraka.

Biasanya masyarakat Manggarai pada umumnya ketika melakukan acara ‘teing tinu’ hal-hal yang disiapkan atau diberikan berupa bahan yang diserahkan kepada orangtua seperti seekor babi ukuran sedang untuk disembelih, beras, minuman lokal (tuak) dan kain songke. Penyerahan bahan-bahan tersebut disertai serangkaian ucapan terima kasih yang disampaikan oleh anak sulung mewakili adik dan saudarinya.

Acara teing tinu dilaksanakan saat salah satu dari orangtua di Manggarai sudah berusia lanjut serta menderita sakit. Biasanya jika ayah atau ibu sudah ada yang sering sakit karena usia tua maka acara teing tinu harus segera dilaksanakan.

Meskipun bermakna ungkapan terima kasih anak kepada orangtua, masih ada orangtua di Manggarai yang takut jika anaknya akan melangsungkan acara tersebut karena diyakini mereka akan meninggal setelahnya. Anggapan tersebut sepenuhnya salah karena hampir semua orangtua yang sudah menerima ‘teing tinu’ malah sehat walafiat di masa tuanya.


Tarian Caci Budaya Masyarakat Manggarai.

Caci adalah salah satu tarian budaya Masyarakat Manggarai. Tarian Caci ini juga merupakan suatu permainan adu ketangkasan antara dua orang l...