Rabu, 07 Juni 2023

Tarian Caci Budaya Masyarakat Manggarai.

Caci adalah salah satu tarian budaya Masyarakat Manggarai. Tarian Caci ini juga merupakan suatu permainan adu ketangkasan antara dua orang laki-laki dalam mencambuk dan menangkis cambukan lawan secara bergantian. Tarian Caci terlihat begitu inndah karena merupakan kombinasi antara keindahan gerak tubuh dan busana yang dipakai, keindahan seni vokal saat bernyanyi, dan ketangkasan dalam mencambuk atau menangkis cambukan lawan).

Tarian Caci merupakan kesenian asli Manggarai yang penuh dengank keunikan-keunikan mulai dari jenis tarian, kostum tari, alat-alat yang digunakan oleh penari, sampai pada bentuk musik iringannya. Tarian Cacimerupakan tarian kesatriaan para pria. Tarian Caci juga adalah sebuah tari perang dimana sepasang lelaki bertarung di sebuah lapangan dengan menggunakan cambuk dan perisai. Penari yang memegang cambuk bertindak sebagai penyerang dan penari lainnya yang memegang perisai bertindak sebagai seorang yang bertahan. Para pemain Caci dibagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok penyerang dan sebagai kelompok bertahan. 

Dalam melakukan tarian Caci, tidak boleh menyerang pada bagian tubuh dari pinggang ke bawah. Para pemain hanya diperbolehkan menyerang pada bagian tubuh dari pinggang ke atas. Bila pukulan lawan tidak dapat ditangkis, maka pemain akan terkena pecutan dan mendapatkan luka cambukan. Dan jika cambukan mengenai mata maka pemain dinyatakan kalah (beke), dan kedua pemain langsung segera diganti. Tari Caci hanya dilaksanakan apabila ada acara penting. Misalnya pada upacara penti (ritual tahun baru), dara lampek (upacara pembukaan lahan baru), dan upacara besar.

Pada dasarnya Caci bukanlah tarian aksi yang berbau kekerasan, melainkan tarian yang menggambarkan keakraban dan persaudaraan. Akan dapat kita lihat setelah kita menyaksikan lansung di arena pertarungan, seringkali para pemain terkena pukulan cambuk dan menimbulkan luka yang cukup serius. Namun para pemainnya tidak menyimpan dendam akan hal itu. Justru sebaliknya, pertarungan yang terjadi di arena akan menambah keakraban antara para pemain tarian Caci. Dalam pertunjukan Tari Caci ini biasanya diiringi oleh alat musik tradisional seperti gendang dan gong, serta nyanyian nenggo dan landu dalam bahasa daerah Manggarai. 


Rabu, 24 Mei 2023

Upacara wagal Masyarakat Manggarai

Masyarakat Manggarai merupakan masyarakat yang kaya akan adat istiadatnya. Adat istiadat menjadi salah satu warisan budaya leluhur yang diwariskan dari generasi ke generasi. Salah satu adat yang masih dilestarikan di kehidupan masyarakat Manggarai yaitu perkawinan secara adat. Perkawinan bagi masyarakat Manggarai bukan hanya sekedar membangun hubungan antara dua individu melainkan persekutuan antara dua kelompok masyarakat yang lebih luas yaitu kerabat dari kedua pengantin, Perkawinan merupakan suatu upaya untuk membangun kehidupan rumah tangga. Masing-masing daerah mempunyai tahapan dalam melaksanakan perkawinan. Masyarakat Manggarai mempunyai tahapan pelaksaan perkawinan. Tahapan itu adalah tuke mbaru, tukar kila dan podo.
Tuke mbaru (tuke: naik), masuk mbaru (rumah). Tuke mbaru yang artinya seorang pria datang untuk melamar seorang wanita untuk meminta izin kepada kedua orang tua wanita untuk meminang anak perempuan mereka. Jika pembicara antar kedua keluarga berlangsung dengan baik maka pihak laki laki akan meminta izin untuk melakukan tukar kila.
Tukar Kila (tukar cincin) yang dipercaya sebagai sang perempuan telah di pinang oleh laki laki begitu juga dengan laki laki supaya keduanya saling mengikat satu sama lain secara adat, dalam acara tukar cincin adapun perjanjian antara kedua belah pihak apa bila salah satu di antara mereka yang mengingkari perjanjian maka akan dikenakan sangsi. Jika pria yang membatalkan terlebih dahulu maka sangsi yang ia dapatkan yaitu membawa kaba ngalu rangga (yang artinya harus dibayar dengan tanduk ketemu tanduk). sedangkan sangsi yang diperoleh perempuan jika membatalkan harus menyiapkan seekor babi yang akan diberikan kepada laki laki dengan istilah orang Manggarai (pongo wa ngaung). Hal tersebut sesuai dengan adat para leluhur zaman dulu, ela wase lima yang akan diberikan kepada pria sebagai tanda permintaan maaf (cemu ritak) itulah akibatnya jika salah satu diantara keduanya memutuskan untuk membatalkan perjanjian yang telah disepakati di acara tukar kila (tukar cincin).
Podo (menyerahkan perempuan kepada keluarga laki laki dengan istilahnya rencu payung), sebelum wanita memasuki rumah laki laki terlebih dahulu melaksanakan pande manuk (acara sambutan gadis baru dengan menggunakan ayam kampung). Acara selanjutnya adalah pentang pitak yang fungsinya agar wanita tersebut tidak diganggu oleh para leluhur yang telah meninggal, jika perempuan tersebut sebelumnya memiliki pantangan berupa makanan maka pantangan itu tidak berlaku lagi. Prosesi pernikahan tidak saja dilangsungkan secara adat tetapi juga tetapi juga pernikahan dilakukan di gereja.

Rabu, 17 Mei 2023

Tradisi We'e Mbaru

We’e mbaru berasal dari kata we'e dan mbaru. We'e artinya pulang atau kembali, sedangkan mbaru artinya rumah. Makna ritual we'e mbaru bagi masyarakat Manggarai adalah orang Manggarai meyakini bahwa segala sesuatu terjadi berkat penyelenggaraan Mori Agu Ngaran (Tuhan dan pemilik). Membangun rumah, bagi mereka, adalah sebuah momen penting yang diyakini tidak terjadi begitu saja.
Orang Manggarai percaya bahwa mereka berhasil membangun rumah karena kebesaran Tuhan. Sang Pencipta menyediakan batu, kayu, hingga iklim yang baik sehingga pembangunan rumah berlangsung lancar. Melalui tradisi we'e mbaru, orang Manggarai mengucap syukur atas kebaikan Tuhan. Mereka juga bersyukur kepada Tuhan karena tidak ada bencana atau kecelakaan selama proses pembuatan rumah. Dalam ritus itu orang Manggarai juga memohon agar Tuhan memberkati rumah itu beserta seluruh penghuninya dengan kesejahteraan ekonomi dan kesehatan.
Orang Manggarai juga percaya kalau rumah memiliki pelindung (ata riang agu ata lami). Dalam acara we'e mbaru, mereka memohon izin si pelindung agar bersedia untuk tinggal bersama di rumah itu dan memohon agar mereka menjadi pelindung pemilik rumah. Upacara we'e mbaru biasanya dibuat saat rumah baru siap ditempati atau dihuni. "Sebelum upacara we’e mbaru biasanya tuan rumah mempersiapkan segalanya, seperti ayam untuk persembahan atau babi dan anjing untuk makan bersama serta minuman. Upacara ini dihadiri keluarga, tamu undangan untuk bersama-sama menyaksikan ritual.
Menurut orang Manggarai, rumah baru yang siap ditempati harus dibuatkan ritual we'e mbaru. Tujuannya yaitu menjauhkan gangguan roh halus dari penghuni rumah. "Dalam kepercayaan orang Manggarai, roh-roh jahat diyakini dapat mengganggu penghuni rumah baru kapan saja. Biasanya mereka mengganggu penghuni rumah melalui mimpi-mimpi buruk, penyakit, kecelakaan, dan lain-lain. Tanah, rumah atau kampung diyakini memiliki penjaga atau pemiliknya. Penjaga atau pemilik ini disebut naga tana (penjaga tanah), naga beo (penjaga kampung), naga mbaru (penjaga rumah).

Rabu, 10 Mei 2023

Ritual Barong Wae

Ritual adat "Barong Wae" adalah cara masyarakat Manggarai mengungkapkan rasa syukur atas segala yang telah mereka terima (dalam bahasa Manggarai, rasa syukur disebut penti). Ritual yang diadakan dari tahun ke tahun ini menjadi sebuah gambaran kehidupan masyarakat Manggarai di bumi Nusa Lale.Wae artinya ialah mata air. Mata air atau wae dianggap sebagai hal penting bagi sebuah kampung atau yang disebut beo.
Mata air (mata wae) bagi orang Manggarai adalah salah satu dari beberapa elemen relasi dengan sebuah kampung (beo). Kampung (beo) tempat hidup manusia harus membangun beberapa sayap relasinya.
Pertama, ada sayap relasi ke atau di dalam kampung antara penghuni kampung yang pada prinsipnya diatur menurut usia. Hubungan kekeluargaan (wan koe etan tua, adik kakak dan orangtua) tidak bisa dan tidak boleh dibalik. 
Kedua,ada sayap relasil kebun untuk diolah (uma bate duat), yang diatur dalam prinsip kerja olah tanah dan pembibitan (weri wini, wuat wini) agar bisa menghasilkan makanan untuk hidup. Kebun (uma) itu harus dijaga dan dirawat demi hidup. 
Ketiga,ada sayap relasi dengan sumber mata air untuk ditimba ( wae teku) dengan prinsip dasar menjaga agar sumber mata air (wae teku) itu tetap memancarkan air dengan deras dan lancar.
Orang Manggarai percaya, mata air adalah hal yang sangat penting dan menjadi tempat tinggal roh di dunia.


Rabu, 03 Mei 2023

Ritus Cear Cumpe Masyarakat Manggarai.

Cear Cumpe merupakan salah satu adat Manggarai yang digunakan untuk pemberian nama bayi secara adat, agar diakui oleh para leluhur sebagai salah satu dari keturunan mereka. Acara ini menjadi salah satu upacara yang dianggap sakral oleh masyarakat Manggarai dan wajib dilakukan.
Cear cumpe yang artinya, yaitu cear artinya membongkar, dan cumpe artinya tempat tidur. Sehingga dapat diartikan bahwa cear cumpe adalah upacara pembongkaran tempat tidur ibu dan bayi yang baru lahir. Upacara ini dibuat sebagai simbol pengabsahan seorang anak yang lahir dan ungkapan rasa haru orang tua dalam mendidik hingga membesarkannya. Cear cumpe juga sangat erat kaitannya sebagai upacara pemberian nama bagi sang anak tersebut. Dalam upacara ini akan disaksikan oleh keluarga dari sang ibu atau disebut dengan (anak rona), keluarga dari ayahnya (anak wina), juga seluruh warga kampong (ase ka’e pa’ang olo ngaung musi).
Dalam upacara cear cumpe ini akan dibuka dengan acara tuak kapu, sebagai simbol pemberian dan sebagai awal mulainya acara tersebut, serta ucapan terima kasih kepada keluarga yang berkenan datang sekaligus memohon doa, berkat, dan restu untuk masa depan sang anak. Ungkapan terima kasih melalui ritus tuak kapu biasanya dilakukan oleh anggota keluarga yang dipercaya oleh pemilik acara cear cumpe tersebut. Selesai acara tuak kapu dilaksanakan, akan dilanjutkan dengan acara pemebrian nama (teing ngasang). 
Nama yang akan diberikan oleh orang tuannya akan menjadi nama yang sah yang disebutkan oleh kedua orang tuannya dalam acara pangku ayam (tudak manuk) sebagai hewan kurban dalam acara tersebut. Setelah acara pemberian nama, akan diungkapkan maksud dari perayaan tersebut yaitu, memohon perlindungan dan berkat dari Tuhan (Mori Jari Dedek) dan semua leluhur yang telah meninggal dunia, agar sang bayi tersebut dapat tumbuh dan menjadi anak yang bisa menghargai dan menghormati orang tuannya.


Rabu, 26 April 2023

Ritus Tiba Meka Orang Manggarai..

Masyarakat Manggarai memiliki kebiasaan yang khas dalam tata cara penyambutan tamu yang berperan untuk mempererat persaudaraan dan memupuk silaturahmi. Tata cara penerimaan tamu ini dalam tradisi orang Manggarai disebut ritus tiba meka. Meka yang disambut dengan ritus ini biasanya berlaku bagi tokoh pemerintah, tokoh masyarakat, dan tokoh agama. Dalam penyambutannya diwakilkan oleh tua adat yang disebut sebagai torok dan letang temba yaitu sebagai juru bicara dan perantara atau yang mewakili warga yang ada dalam satu kampung dengan tamu yang datang. 

Tata Cara Tiba Meka

Dalam penyambutan tamu, orang Manggarai memiliki beberapa prosedur di antaranya:
pertama, ‘Reis tiba di’a’ ( penyambutan dengan baik). Dalam bagian ini, ada beberapa hal penting yakni sapaan pembuka. Pengantar ini akan disampaikan oleh perwakilan dari suatu kampung. Biasanya, disampaikan oleh tokoh adat yang berfungsi sebagai ‘Torok’ (juru bicara) dan ‘ letang temba’ (mewakili) warga kampung. Selain itu, ungkapan kegembiraan menunjukkan kebahagiaan warga kampung karena tamu telah datang. Ungkapan ini juga diwakili oleh tokoh adat dengan ‘kapu’. Dilanjutkan dengan ungkapan kekaguman kepada tamu yang bersedia mengorbankan waktu untuk datang ke kampung.Terakhir, penutup dimana tamu diberi ayam jantan yang berwarna putih dan tuak sebagai puncak kegembiraan dari warga kampung dan juga sebagai tanda kehormatan. Tuak menjadi lambang penyerahan seluruh harapan kegembiraan bersama warga kampung.

Kedua, ‘raes agu raos cama laing’ (berbagi suka cita dan kebersamaan). Dalam bagian ini, penutur adat akan menyapa tamu dengan ‘ema’ yang menunjukkan kerendahan hati. Selain itu, warga kampung juga akan memperlihatkan suasana keakraban dengan “padir wa’i rentu sa’i” menyambut tamu. Terakhir adalah penerimaan dengan memberikan tuak reis (penyambutan) sebagai ajakan untuk menjadi bagian dari warga kampung dan menikmati suasana kegembiraan.

Ketiga, ‘pande cepa’ (Kebersamaan jasmani dan rohani) acara ini lebih pada pemberian sirih pinang tanpa ada pernyataan formal secara adat. Hal ini biasanya dilakukan oleh kaum perempuan. Pande cepa dimaknai sebagai ucapan selamat datang secara simbolis. Menikmati sirih pinang tanda masuk dan mengecap suasana persekutuan.

Keempat, ‘inung wae kolang’ (Minum bersama sebagai tanda keakraban) sebagai suguhan perdana atau pembuka bagi tamu. 

Kelima, ‘wali di’a (mohon keselamatan untuk tamu) merupakan ucapan terima kasih tokoh adat kepada tamu. Selain itu, tokoh adat juga akan memberi harapan agar tamu diberi kesehatan untuk tetap berjuang bersama warga kampung. Juga dalam bagian ini, tokoh adat akan menyampaikan permohonan maaf kepada tamu dan tamu akan diberikan ‘tuak baro salah’ (tuak untuk dimaafkan).

Sabtu, 15 April 2023

Ritus" Teing Hang" Masyarakat Manggarai.






 

Ritus “Teing Hang” merupakan bentuk syukur dan doa kepada Tuhan melalui perantaraan leluhur dalam masyarakat adat Manggarai. Ritual ini biasa dilakukan menjelang tahun baru sebagai wujud syukur atas tahun yang lama dan mohon berkat atau rejeki di tahun yang baru. 

Tahap dalam acara Teing Hang akhir tahun yaitu “Teing Cepa” (memberikan kapur sirih, sirih, pinang), “teing tuak” (Memberikan Moke), “Kebut Wulu Manuk Lalong Bakok” (Mencabut bulu ayam jantan putih ), ” Mbele Manuk Bakok” ( sembelih Ayam Jantan putih), ” Toto Urat” ( melihat urat usus Ayam jantan yang sudah disembelih dan dibakar).
Teing cepa sebagai bentuk penghargaan awal menyambut kedatangan Nenek Moyang.
Dalam tradisi masyarakat Manggarai pada umumnya, kapur sirih, daun sirih dan pinang adalah makanan penyambut dikala tamu pertama kali hadir di rumah. Selanjutnya, tahap teing tuak yakni memberikan moke kepada arwah untuk menambah rasa persatuan antara nenek moyang dengan keluarga di dalam rumah. Kebut Wulu Manuk Lalong yang bermakna agar bersih dan suci dengan memiliki hati, pikiran, perkataan dan tindakan yang bersih pada tahun yang baru. Pada tahap ini masyarakat Manggarai meminta supaya hati dan pikiran diterangi pada tahun baru melalui perkataan dan tindakan sesuai dengan putih bersih ayam jantan tersebut.

Makna yang Terkandung dalam Budaya "Teing Hang" Arwah di Manggarai.

Pertama, penghormatan pada arwah. Acara ini sebagai bentuk penghormatan pada arwah. Masyarakat Manggarai sangat menghormati anggota keluarganya yang telah meninggal dunia. 
Kedua, membangun hubungan yang dekat. Mayarakat Manggarai meyakini bahwa mereka yang sudah meninggal masih memiliki hubungan yang dekat dengan masyarakat. 
Ketiga, arwah adalah pendoa. Orang Manggarai percaya bahwa para arwah adalah pendoa yang baik.  Mereka pasti selalu berdoa bagi keluarganya yang masih hidup. 
Keempat, mengikat tali persaudaran masyarakat. Melalui acara memberikan makan arwah, masyarakat yang tersebar di berbagai daerah yang sudah lama tidak bertemu, kini berkumpul jadi satu. Saling berbagi cerita tentang pahit-manisnya kehidupan di tempat di mana mereka berada.


https://youtu.be/ud-hCqf50S4







Tarian Caci Budaya Masyarakat Manggarai.

Caci adalah salah satu tarian budaya Masyarakat Manggarai. Tarian Caci ini juga merupakan suatu permainan adu ketangkasan antara dua orang l...