Masyarakat Manggarai memiliki kebiasaan yang khas dalam tata cara penyambutan tamu yang berperan untuk mempererat persaudaraan dan memupuk silaturahmi. Tata cara penerimaan tamu ini dalam tradisi orang Manggarai disebut ritus tiba meka. Meka yang disambut dengan ritus ini biasanya berlaku bagi tokoh pemerintah, tokoh masyarakat, dan tokoh agama. Dalam penyambutannya diwakilkan oleh tua adat yang disebut sebagai torok dan letang temba yaitu sebagai juru bicara dan perantara atau yang mewakili warga yang ada dalam satu kampung dengan tamu yang datang.
Tata Cara Tiba Meka
Dalam penyambutan tamu, orang Manggarai memiliki beberapa prosedur di antaranya:
pertama, ‘Reis tiba di’a’ ( penyambutan dengan baik). Dalam bagian ini, ada beberapa hal penting yakni sapaan pembuka. Pengantar ini akan disampaikan oleh perwakilan dari suatu kampung. Biasanya, disampaikan oleh tokoh adat yang berfungsi sebagai ‘Torok’ (juru bicara) dan ‘ letang temba’ (mewakili) warga kampung. Selain itu, ungkapan kegembiraan menunjukkan kebahagiaan warga kampung karena tamu telah datang. Ungkapan ini juga diwakili oleh tokoh adat dengan ‘kapu’. Dilanjutkan dengan ungkapan kekaguman kepada tamu yang bersedia mengorbankan waktu untuk datang ke kampung.Terakhir, penutup dimana tamu diberi ayam jantan yang berwarna putih dan tuak sebagai puncak kegembiraan dari warga kampung dan juga sebagai tanda kehormatan. Tuak menjadi lambang penyerahan seluruh harapan kegembiraan bersama warga kampung.
Kedua, ‘raes agu raos cama laing’ (berbagi suka cita dan kebersamaan). Dalam bagian ini, penutur adat akan menyapa tamu dengan ‘ema’ yang menunjukkan kerendahan hati. Selain itu, warga kampung juga akan memperlihatkan suasana keakraban dengan “padir wa’i rentu sa’i” menyambut tamu. Terakhir adalah penerimaan dengan memberikan tuak reis (penyambutan) sebagai ajakan untuk menjadi bagian dari warga kampung dan menikmati suasana kegembiraan.
Ketiga, ‘pande cepa’ (Kebersamaan jasmani dan rohani) acara ini lebih pada pemberian sirih pinang tanpa ada pernyataan formal secara adat. Hal ini biasanya dilakukan oleh kaum perempuan. Pande cepa dimaknai sebagai ucapan selamat datang secara simbolis. Menikmati sirih pinang tanda masuk dan mengecap suasana persekutuan.
Keempat, ‘inung wae kolang’ (Minum bersama sebagai tanda keakraban) sebagai suguhan perdana atau pembuka bagi tamu.
Kelima, ‘wali di’a (mohon keselamatan untuk tamu) merupakan ucapan terima kasih tokoh adat kepada tamu. Selain itu, tokoh adat juga akan memberi harapan agar tamu diberi kesehatan untuk tetap berjuang bersama warga kampung. Juga dalam bagian ini, tokoh adat akan menyampaikan permohonan maaf kepada tamu dan tamu akan diberikan ‘tuak baro salah’ (tuak untuk dimaafkan).
👍👍
BalasHapus