Rabu, 24 Mei 2023

Upacara wagal Masyarakat Manggarai

Masyarakat Manggarai merupakan masyarakat yang kaya akan adat istiadatnya. Adat istiadat menjadi salah satu warisan budaya leluhur yang diwariskan dari generasi ke generasi. Salah satu adat yang masih dilestarikan di kehidupan masyarakat Manggarai yaitu perkawinan secara adat. Perkawinan bagi masyarakat Manggarai bukan hanya sekedar membangun hubungan antara dua individu melainkan persekutuan antara dua kelompok masyarakat yang lebih luas yaitu kerabat dari kedua pengantin, Perkawinan merupakan suatu upaya untuk membangun kehidupan rumah tangga. Masing-masing daerah mempunyai tahapan dalam melaksanakan perkawinan. Masyarakat Manggarai mempunyai tahapan pelaksaan perkawinan. Tahapan itu adalah tuke mbaru, tukar kila dan podo.
Tuke mbaru (tuke: naik), masuk mbaru (rumah). Tuke mbaru yang artinya seorang pria datang untuk melamar seorang wanita untuk meminta izin kepada kedua orang tua wanita untuk meminang anak perempuan mereka. Jika pembicara antar kedua keluarga berlangsung dengan baik maka pihak laki laki akan meminta izin untuk melakukan tukar kila.
Tukar Kila (tukar cincin) yang dipercaya sebagai sang perempuan telah di pinang oleh laki laki begitu juga dengan laki laki supaya keduanya saling mengikat satu sama lain secara adat, dalam acara tukar cincin adapun perjanjian antara kedua belah pihak apa bila salah satu di antara mereka yang mengingkari perjanjian maka akan dikenakan sangsi. Jika pria yang membatalkan terlebih dahulu maka sangsi yang ia dapatkan yaitu membawa kaba ngalu rangga (yang artinya harus dibayar dengan tanduk ketemu tanduk). sedangkan sangsi yang diperoleh perempuan jika membatalkan harus menyiapkan seekor babi yang akan diberikan kepada laki laki dengan istilah orang Manggarai (pongo wa ngaung). Hal tersebut sesuai dengan adat para leluhur zaman dulu, ela wase lima yang akan diberikan kepada pria sebagai tanda permintaan maaf (cemu ritak) itulah akibatnya jika salah satu diantara keduanya memutuskan untuk membatalkan perjanjian yang telah disepakati di acara tukar kila (tukar cincin).
Podo (menyerahkan perempuan kepada keluarga laki laki dengan istilahnya rencu payung), sebelum wanita memasuki rumah laki laki terlebih dahulu melaksanakan pande manuk (acara sambutan gadis baru dengan menggunakan ayam kampung). Acara selanjutnya adalah pentang pitak yang fungsinya agar wanita tersebut tidak diganggu oleh para leluhur yang telah meninggal, jika perempuan tersebut sebelumnya memiliki pantangan berupa makanan maka pantangan itu tidak berlaku lagi. Prosesi pernikahan tidak saja dilangsungkan secara adat tetapi juga tetapi juga pernikahan dilakukan di gereja.

Rabu, 17 Mei 2023

Tradisi We'e Mbaru

We’e mbaru berasal dari kata we'e dan mbaru. We'e artinya pulang atau kembali, sedangkan mbaru artinya rumah. Makna ritual we'e mbaru bagi masyarakat Manggarai adalah orang Manggarai meyakini bahwa segala sesuatu terjadi berkat penyelenggaraan Mori Agu Ngaran (Tuhan dan pemilik). Membangun rumah, bagi mereka, adalah sebuah momen penting yang diyakini tidak terjadi begitu saja.
Orang Manggarai percaya bahwa mereka berhasil membangun rumah karena kebesaran Tuhan. Sang Pencipta menyediakan batu, kayu, hingga iklim yang baik sehingga pembangunan rumah berlangsung lancar. Melalui tradisi we'e mbaru, orang Manggarai mengucap syukur atas kebaikan Tuhan. Mereka juga bersyukur kepada Tuhan karena tidak ada bencana atau kecelakaan selama proses pembuatan rumah. Dalam ritus itu orang Manggarai juga memohon agar Tuhan memberkati rumah itu beserta seluruh penghuninya dengan kesejahteraan ekonomi dan kesehatan.
Orang Manggarai juga percaya kalau rumah memiliki pelindung (ata riang agu ata lami). Dalam acara we'e mbaru, mereka memohon izin si pelindung agar bersedia untuk tinggal bersama di rumah itu dan memohon agar mereka menjadi pelindung pemilik rumah. Upacara we'e mbaru biasanya dibuat saat rumah baru siap ditempati atau dihuni. "Sebelum upacara we’e mbaru biasanya tuan rumah mempersiapkan segalanya, seperti ayam untuk persembahan atau babi dan anjing untuk makan bersama serta minuman. Upacara ini dihadiri keluarga, tamu undangan untuk bersama-sama menyaksikan ritual.
Menurut orang Manggarai, rumah baru yang siap ditempati harus dibuatkan ritual we'e mbaru. Tujuannya yaitu menjauhkan gangguan roh halus dari penghuni rumah. "Dalam kepercayaan orang Manggarai, roh-roh jahat diyakini dapat mengganggu penghuni rumah baru kapan saja. Biasanya mereka mengganggu penghuni rumah melalui mimpi-mimpi buruk, penyakit, kecelakaan, dan lain-lain. Tanah, rumah atau kampung diyakini memiliki penjaga atau pemiliknya. Penjaga atau pemilik ini disebut naga tana (penjaga tanah), naga beo (penjaga kampung), naga mbaru (penjaga rumah).

Rabu, 10 Mei 2023

Ritual Barong Wae

Ritual adat "Barong Wae" adalah cara masyarakat Manggarai mengungkapkan rasa syukur atas segala yang telah mereka terima (dalam bahasa Manggarai, rasa syukur disebut penti). Ritual yang diadakan dari tahun ke tahun ini menjadi sebuah gambaran kehidupan masyarakat Manggarai di bumi Nusa Lale.Wae artinya ialah mata air. Mata air atau wae dianggap sebagai hal penting bagi sebuah kampung atau yang disebut beo.
Mata air (mata wae) bagi orang Manggarai adalah salah satu dari beberapa elemen relasi dengan sebuah kampung (beo). Kampung (beo) tempat hidup manusia harus membangun beberapa sayap relasinya.
Pertama, ada sayap relasi ke atau di dalam kampung antara penghuni kampung yang pada prinsipnya diatur menurut usia. Hubungan kekeluargaan (wan koe etan tua, adik kakak dan orangtua) tidak bisa dan tidak boleh dibalik. 
Kedua,ada sayap relasil kebun untuk diolah (uma bate duat), yang diatur dalam prinsip kerja olah tanah dan pembibitan (weri wini, wuat wini) agar bisa menghasilkan makanan untuk hidup. Kebun (uma) itu harus dijaga dan dirawat demi hidup. 
Ketiga,ada sayap relasi dengan sumber mata air untuk ditimba ( wae teku) dengan prinsip dasar menjaga agar sumber mata air (wae teku) itu tetap memancarkan air dengan deras dan lancar.
Orang Manggarai percaya, mata air adalah hal yang sangat penting dan menjadi tempat tinggal roh di dunia.


Rabu, 03 Mei 2023

Ritus Cear Cumpe Masyarakat Manggarai.

Cear Cumpe merupakan salah satu adat Manggarai yang digunakan untuk pemberian nama bayi secara adat, agar diakui oleh para leluhur sebagai salah satu dari keturunan mereka. Acara ini menjadi salah satu upacara yang dianggap sakral oleh masyarakat Manggarai dan wajib dilakukan.
Cear cumpe yang artinya, yaitu cear artinya membongkar, dan cumpe artinya tempat tidur. Sehingga dapat diartikan bahwa cear cumpe adalah upacara pembongkaran tempat tidur ibu dan bayi yang baru lahir. Upacara ini dibuat sebagai simbol pengabsahan seorang anak yang lahir dan ungkapan rasa haru orang tua dalam mendidik hingga membesarkannya. Cear cumpe juga sangat erat kaitannya sebagai upacara pemberian nama bagi sang anak tersebut. Dalam upacara ini akan disaksikan oleh keluarga dari sang ibu atau disebut dengan (anak rona), keluarga dari ayahnya (anak wina), juga seluruh warga kampong (ase ka’e pa’ang olo ngaung musi).
Dalam upacara cear cumpe ini akan dibuka dengan acara tuak kapu, sebagai simbol pemberian dan sebagai awal mulainya acara tersebut, serta ucapan terima kasih kepada keluarga yang berkenan datang sekaligus memohon doa, berkat, dan restu untuk masa depan sang anak. Ungkapan terima kasih melalui ritus tuak kapu biasanya dilakukan oleh anggota keluarga yang dipercaya oleh pemilik acara cear cumpe tersebut. Selesai acara tuak kapu dilaksanakan, akan dilanjutkan dengan acara pemebrian nama (teing ngasang). 
Nama yang akan diberikan oleh orang tuannya akan menjadi nama yang sah yang disebutkan oleh kedua orang tuannya dalam acara pangku ayam (tudak manuk) sebagai hewan kurban dalam acara tersebut. Setelah acara pemberian nama, akan diungkapkan maksud dari perayaan tersebut yaitu, memohon perlindungan dan berkat dari Tuhan (Mori Jari Dedek) dan semua leluhur yang telah meninggal dunia, agar sang bayi tersebut dapat tumbuh dan menjadi anak yang bisa menghargai dan menghormati orang tuannya.


Tarian Caci Budaya Masyarakat Manggarai.

Caci adalah salah satu tarian budaya Masyarakat Manggarai. Tarian Caci ini juga merupakan suatu permainan adu ketangkasan antara dua orang l...